Pemerintah Singapura meluncurkan proyek Malacca Strait Subsea Airport (MSSA) senilai $18 miliar, bandara pertama global yang dibangun 50 meter di bawah dasar laut. Kontraktor Sembcorp Marine memasang terowongan baja tahan korosi sepanjang 8 km dari Pulau Jurong ke tengah Selat Malaka sejak Maret 2024. “Proyek ini atasi keterbatasan lahan dan perluas kapasitas Changi yang sudah jenuh,” tegas Menteri Transportasi Ong Ye Kung.

Teknologi Membelah Dasar Laut

Dua mesin bor Tunnel Boring Machine (TBM) berdiameter 25 meter menggali dasar laut dengan kecepatan 10 meter/hari, dipandu sensor AI untuk hindari kabel bawah laut. Sistem Air Pressure Control otomatis menjaga tekanan udara setara daratan di dalam terminal. Kereta listrik bawah laut SeaShuttle X9 akan mengangkut penumpang dari darat ke terminal dalam 7 menit.

Lindungi Ekosistem Laut

Insinyur memasang artificial reef di sekitar proyek untuk lindungi terumbu karang. Drone bawah laut ECO-Scan memantau sedimentasi 24/7 agar tidak melebihi ambang 5 mg/L. “Kami gunakan beton ramah lingkungan dari limbah cangkang kerang,” ungkap CEO Sembcorp, Wong Weng Sun.

Pacu Ekonomi & Picu Protes

Proyek ini akan menyerap 120.000 tenaga kerja dan kurangi kepadatan Changi 40%. Namun, Malaysia dan Indonesia protes karena khawatir ganggu jalur pelayaran. Singapura tawarkan skema bagi hasil: 15% pendapatan bandara untuk negara yang izinkan ruang udara di Selat Malaka.

Target Operasional 2030

Fase pertama akan beroperasi pada 2030 dengan kapasitas 60 juta penumpang/tahun. Inovasi unggulan termasuk runway bawah laut berpemanas untuk cegah akumulasi garam dan sistem evakuasi via submarine pod berkecepatan 40 knot. Jika sukses, MSSA akan jadi ikon arsitektur maritim—pesawat lepas landas dari bawah tanah, lalu muncul ke permukaan layaknya kapal selam.