Petani di Desa Zengcheng, Guangzhou, menerbangkan armada 50 drone pintar setiap subuh untuk memantau 1.200 hektar sawah dengan presisi milimeter. Teknologi ini merombak praktik pertanian yang telah diwariskan 40 generasi, menggantikan metode konvensional dengan algoritma prediktif berbasis AI.
Sistem Guangzhou Smart Farming 4.0 mengintegrasikan data satelit, sensor IoT tanah, dan citra multispektral drone untuk menghasilkan rekomendasi real-time. “Algoritma kami memprediksi serangan hama 10 hari lebih awal dan menentukan dosis pestisida optimal,” jelas Dr. Huang Wei, ketua tim riset di Universitas Pertanian Guangdong. Di lapangan, drone DJI Agras T50 menyemprotkan pupuk dengan akurasi 2 cm, menghemat 30% input pertanian.
Petani generasi ke-5 seperti Chen Ming (48) membuktikan revolusi ini: “Dulu saya mengandalkan kalender lunar, sekarang tablet ini memberitahu kapan tepatnya menanam padi varietas Jinzhen agar panen bersamaan dengan permintaan pasar.” Sistem ini meningkatkan hasil panen dari 6 ton/hektar menjadi 8,5 ton/hektar pada 2025.
Pemerintah Guangzhou meluncurkan pusat pelatihan untuk 5.000 petani senior, mengajarkan operasi drone dan interpretasi data AI. “Kami memadukan kearifan lokal tentang rotasi tanaman dengan algoritma machine learning,” kata pelatih Li Juan. Hasilnya, 78% peserta mengadopsi teknologi dalam 6 bulan.
Di balik layar, superkomputer Tianhe-2 menganalisis 15 TB data harian cuaca, pasar, dan kondisi tanah. Algoritma Crop Prophet merancang jadwal tanam 120 jenis komoditas, mempertimbangkan tren ekspor dan perubahan iklim.
Warisan budaya tetap hidup melalui festival panen yang memamerkan drone berhiaskan kaligrafi Tiongkok kuno. Inovasi ini tidak sekadar meningkatkan produktivitas, tetapi menjembatani kebijaksanaan Leluhur Yu the Great dengan presisi Revolusi Industri 4.0.