Kapal patroli Kazakhstan KazGuard-12 tembakkan peringatan ke kapal riset Rusia Rostech-7 di Perairan Kashagan, Juni 2024. Pemicunya: Rusia bor ilegal di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Kazakhstan untuk menyedot garam kaya lithium (11,3% lithium karbonat). Satelit Maxar buktikan Rusia telah bangun 7 rig pengeboran rahasia dengan pabrik nuklir terapung.

Perang Teknologi Bawah Laut

Kazakhstan kirim robot SADKO-AI buatan Turkiye untuk hancurkan pipa Rusia. Sebaliknya, Moskow balas dengan drone Orlan-30 yang lelehkan garam pilih lithium via gelombang mikro. “Mereka ambil lithium, tinggalkan limbah garam yang rusak ekosistem,” protes ahli biologi laut Maria Vorontsova.

Panik Pasar Global

Harga lithium melonjak 300% sejak Maret 2024. China kirim kapal perang Type 055 ke Kaspia sebagai “penjaga netral”. Sementara Uni Eropa gagal sanksi Rusia karena veto Moskow di Dewan Arktik.

Solusi Alternatif dari Barat

AS dan Kanada percepat proyek lithium geothermal di California Utara—ekstrak lithium dari air panas bumi, hemat 60% biaya. Jerman investasi €20 miliar di startup VoltaCore untuk baterai natrium-ion berbasis garam biasa. “Teknologi kami kurangi ketergantungan lithium 80%,” klaim CTO-nya, Dr. Felix Weber.

Peringatan PBB & Jalan Buntu

Mediator PBB Sigrid Kaag tegaskan: “70% cadangan lithium dunia ada di zona sengketa. Target nol emisi 2050 terancam gagal.” Kazakhstan tawarkan skema bagi hasil 60:40, tapi Rusia tolak dan ancam tutup ekspor gas ke Eropa.

Masa Depan Tanpa Pertumpahan

Ilmuwan MIT kembangkan electrodialysis selektif untuk ekstrak lithium dari air laut biasa ($2/kg). Jika berhasil, Laut Kaspia tak perlu jadi medan perang. Namun, saat ini, dentuman meriam masih menggema di perairan yang jadi kunci transisi energi global.